Membakar Sampah di Pekarangan: Solusi Praktis atau Ancaman Tidak Terlihat bagi Keluarga Kita?

Yoga Tunjung Nugroho 30 Juli 2026 10:19:00 WIB

Krisis lahan pembuangan akhir (TPA) pada wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta kerap kali mengalami krisis volume sampah yang melebihi kapasitas. Hal ini secara sadar menuntut perhatian lebih dalam berbagai bagian masyarakat, termasuk area pedesaan, untuk mulai melakukan suatu gerakan dalam penanganan akan krisis – sampah terutama sampah rumah tangga – secara mandiri dan berkelanjutan

Di kawasan pedesaan sendiri krisis sampah secara letak geografis pada ranah masyarakatnya, sendiri masih diberlakukan prosedur yang dinilai lebih cepat, efisien dan bebas biaya. Dengan fokus pada mengurangi volume sampah pada tempo seringkas mungkin dengan memanfaatkan lahan dan pekarangan yang luas, mengubur atau membakar masih merupakan pilihan utama sebagian besar masyarakat. Namun, tanpa disadari di balik kepraktisan tersebut terdapat dampak mengerikan dalam kesehatan jika dilihat dari risiko jangka panjang

Kebiasaan dalam membakar dan menimbun sampah di pekarangan baik organik dan anorganik, menyimpan segudang bahaya nyata bagi keluarga maupun lingkungan. Secara medis, membakar sampah plastik memicu gas dioksin pemicu kanker. Sementara itu, asap yang dihasilkan dalam pembakaran sampah organik dapat merusak pernapasan. Di sisi lain, menimbun plastik akan merusak kesuburan tanah karena tidak dapat terurai. Penimbunan sampah organik tanpa melakukan prosedur pengecekan terlebih dahulu berpotensi menghasilkan cairan lindi yang mencemari air sumur warga

Di tengah krisis ini, desa sebenarnya sudah menyediakan fasilitas Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Berkah Manunggal yang telah dikelola langsung oleh kelompok warga sejak awal didirikan. Fasilitas ini beroperasi secara mandiri dengan fokus utama dalam penanggulangan sampah, dengan tetap memprioritaskan kenyamanan dan kepentingan warga. Dalam upaya ini, manajemen pengelola rutin mengadakan rapat evaluasi warga setiap 2-3 bulan sekali, serta pengecekan berkala per setengah tahun

Dalam prosedurnya sendiri, TPS mengandalkan armada kendaraan roda tiga (Tosa) untuk melakukan prosedur pengangkutan berkala dari 3 hingga 4 kawasan wisata per harinya. Volume sampah mengalami lonjakan signifikan saat masa liburan tiba. Sebagai upaya pencegahan dalam penanganan kelebihan kapasitas penyimpanan sampah dan menjaga estetika kawasan, petugas TPS harus bergerak taktis dengan mengambil sampah restoran atau limbah wisata pada pembagian waktu tertentu, yakni sebelum jam 8 pagi dan setelah jam 10 siang

 

Tentu diketahui secara jelas setiap hasil visi membutuhkan usaha yang keras untuk mewujudkannya. Tak terkecuali pada prosedur penanganan dan pemilahan yang dijalankan oleh pihak TPS, yang diketahui membutuhkan energi dan pemeliharaan alat yang tinggi. Terlebih lagi mengingat keterbatasan logistik dan masalah transportasi armada Tosa yang kerap dihadapi di lapangan. Selama ini, sistem operasional harian disokong penuh oleh iuran kontrak bulanan dari sektor pariwisata

Pengurus TPS Berkah Manunggal sendiri sebenarnya sudah merancang berbagai visi yang inovatif untuk pengelolaan. Sampah organik dicacah menggunakan alat khusus berkapasitas 10 kg, sementara sampah anorganik bernilai ekonomis akan didaur ulang menjadi barang yang memiliki nilai jual. Bahkan, budidaya maggot terintegrasi pun sempat berjalan sebelum operasional TPS dimulai secara penuh. Sayangnya belum dapat direalisasikan karena berbagai keterbatasan, baik dalam segi keterbatasan logistik atau kendala teknis

Hingga saat ini, pihak TPS tetap berharap keikutsertaan warga dalam menyejahterakan keberlangsungan TPS ini, Pengelola tetap mementingkan kebebasan masyarakat yang sepenuhnya bersifat sukarela tanpa adanya paksaan, yang memastikan masyarakat baik kepala keluarga sendiri apakah ingin mengelola sampahnya sendiri di rumah atau menjalin kontrak pembuangan rutin

Tantangan utama perluasan layanan ini sendiri datang dari penyesuaian tarif iuran perbulan sebesar Rp20.000. sebagian besar warga merasa keberatan dengan nilai iuran tersebut, terlebih dengan adanya alternatif layanan pengepul sampah keliling independen yang sudah lama beroperasi di wilayah Patuk

Dukungan iuran rumah tangga sekecil apapun sebenarnya merupakan bentuk gotong royong paling berarti dalam menghidupkan napas TPS Berkah Manunggal. Ketulusan yang berakar dari warga yang merupakan pilar yang kokoh dalam menjamin keberlangsungan fasilitas kebersihan desa untuk terus melayani kebutuhan warga

Pada akhirnya, keputusan dalam mengurus sampah secara mandiri menggunakan lahan yang tersedia, maupun menitipkan sampah agar dapat dikelola pada sistem yang sudah disediakan oleh desa, kembali lagi pada kebutuhan dan kesadaran masing-masing individu. Setiap pekarangan rumah adalah milik kita dan masa depan kebersihan lingkungan desa ada di tangan keputusan kita hari ini.

 

Penulis : Yusuf Maulana Afwan, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada (2023)

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 
Pencarian
Sekilas Info!
Arsip Artikel
Komentar Terkini
  • Sansan Wawa
    artikel yang inspiratif :)...baca selengkapnya
    06 November 2014 13:06:57 WIB
Galeri Foto
LAYANAN INFORMASI
Statistik Kunjungan
Hari ini
Kemarin
Total Visitor
Media Sosial